Motto: No Later or Tomorrow..! [Inspired: Q.S.(94):7]

Rabu, 05 Agustus 2009

Pemuda Pembangkit Semangat Dunia Islam

Madinah murung. Mendung tebal serasa menyelimuti seluruh Kota Madinah. Suasana itu hadir di hati seluruh shahabat. Tanpa terkecuali. Semua menundukkan kepalanya. Semua meneteskan air matanya. Semua tersayat hatinya. Dunia kehilangan sumber cahayanya. Rasulullah mulia dipanggil oleh Rabnya.

Pemakaman Nabi menjadi klimaks kesedihan yang tak mampu diurai oleh kata-kata. Saat timbunan tanah, sedikit demi sedikit mengubur jasad mulia itu.

Dunia Islam berkabung.

3 mil dari suasana itu, tepatnya di Juruf (Dari Madinah arah ke Syam), seorang anak muda yang baru berusia 18 tahun menghentikan pasukannya. Pasukan itu telah disiapkan dan diberangkatkan oleh Nabi untuk berjihad melawan Romawi. Hawa sedih Madinah juga sampai kepada mereka. Perjalanan pasukan terhenti. Dihentikan oleh panglimanya. Usamah bin Zaid radhiallahu anhu, karena mendengar Rasul wafat.

Tetapi negara Islam segera sadar, tidak boleh larut dalam kesedihan berkepanjangan. Tugas-tugas besar menanti mereka. Untuk menjaga dan melanjutkan perjuangan Rasulullah. Negara Islam itu segera membaiat pemimpinnya. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallah anhu.

Kini kendali di tangan Abu Bakar, termasuk pengiriman pasukan Usamah. Saat itu, masalah besar tengah menghajar dunia Islam. Seluruh wilayah Islam murtad. Tidak ada yang tersisa kecuali hanya 3 kota saja: Mekah, Madinah dan Thaif. Semuanya murtad, ada yang mengikuti nabi palsu. Ada yang memisahkan antara syariat shalat dan zakat.

Pengiriman pasukan Usamah ditentang oleh sebagian shahabat senior. Umar di antaranya. Dua pertimbangannya:

1. Usia Usamah yang masih terlalu muda (18 tahun)
2. Negara Islam sedang terancam dan Madinah memerlukan pasukan untuk menjaga eksistensinya dari kemungkinan serangan orang-orang murtad

Semua orang boleh menolak dengan alasan paling logis. Termasuk orang secerdas dan sehebat Umar. Tapi semua akan berhadapan dengan Abu Bakar. Termasuk Umar.

Siapa yang tak kenal Abu Bakar. Manusia nomer satu setelah Rasul. Abu Bakar tidak sedang menjadi diktator yang tidak bisa diberi masukan atau kritik. Tetapi inilah Abu Bakar dan rahasia mengapa dia yang menjadi shahabat nomer satu. Ittiba’ (mengikut semua yang disampaikan Nabi) tanpa kompromi. Bahkan tanpa logika. Karena ini wahyu. Datang dari manusia terbaik, Rasul terbaik dengan panduan langit.

Abu Bakar dan semua shahabat tahu bahwa pasukan Usamah adalah pasukan yang dibentuk oleh Nabi. Maka inilah ketegasan Abu Bakar yang tergoyahkan oleh apapun, “Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalaupun aku tahu bahwa binatang buas akan memangsaku, aku tetap akan memberangkatkan pasukan Usamah sebagaimana perintah Nabi. Walaupun tak tersisa di wilayah ini kecuali aku seorang diri, pasukan tetap aku berangkatkan!”

Umar sempat menjadi juru bicara masyarakat Anshar menyampaikan pesan kepada Khalifah Abu Bakar, “Sesungguhnya Anshar memintaku untuk menyampaikan kepadamu; agar engkau mengangkat panglima yang lebih tua usianya dari Usamah.”

Seketika Abu Bakar melompat dari tempat duduknya ke arah Umar sambil menarik jenggot Umar, “Celakalah kamu hai Ibnu Khattab. Dia itu diangkat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sekarang kamu memintaku untuk mencopotnya?!”

Begitulah, pasukan berangkat dengan diantar langsung oleh Khalifah. Pasukan yang dipimpin oleh panglima termuda itu bertugas selama kurang lebih 40 hari.

Pasukan melaksanakan tugas besarnya. Dimulai dari suku Qudha’ah yang murtad. Usamah menang dan mendapatkan ghanimah. Kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Abil. Kemenangan juga diraihnya dengan membawa pulang ghanimah.

Subhanallah, Usamah mampu membuktikan diri di tengah ketidakpercayaan publik. Anak muda yang baru berumur 18 tahun itu, telah mengukir prestasi internasionalnya.

Bukan hanya itu, dampak dari pengiriman pasukan ini justru di luar dugaan semua orang yang mengkhawatirkan Madinah. Masyarakat Arab yang menyaksikan pergerakan pasukan Usamah mengira Madinah mempunyai kekuatan yang tidak terukur jumlah dan kekuatannya. Buktinya, masih berani mengirim pasukan Usamah keluar Madinah di tengah pemberontakan aqidah berbagai wilayah khilafah. Masyarakat Arab yang tadinya berniat jahat, jadi mengurungkan niatnya.

Subhanallah. Sekali lagi subhanallah...

Usamah anak muda itu. Sekali jalan, mampu membungkam musuh negara Islam. Dan pulang dengan kemenangan besar berikut ghanimah. Kemenangan itu membangkitkan semangat membara yang menyala di hati setiap muslim di Kota Madinah.

Usamah anak muda 18 tahun itu telah menyumbangkan kebahagiaan dan semangat saat dunia Islam berkabung dengan wafatnya Rasul dan murtadnya sebagian besar wilayahnya.

Kemanakah Usamah-Usamah muda abad 21?

رضي الله عنك يا أسامة

(Semoga Allah meridhoimu, Usamah!)

Sumber: CahayaSirah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar